Book of Memories Chapter #1
CHAPTER I
JANUARY
Happy New Year, tidak ada yang bisa mengalahkan keindahan tahun baru. Kembang api dilayangkan dimana-mana suara "jeduar-jeduar" dimana-mana. Suasana gembira terpancarkan di dalam rumah. Semuanya bahagia, keluarga kami memasak daging grill dengan saus Jepang. Semuanya bahagia, aku sangat bahagia. Waktu berjalan sangat cepat sekali, aku dan adikku sibuk menyanyikan lagu karaoke korea dan berdiskusi mengenai hal-hal berbau korea. Wajar bila saudara saling berbicara, namun ada perasaan tidak enak saat berbicara. Perasaan tidak enak itu adalah dimana aku tidak memberi kabar kepada orang yang paling kucintai selain keluargaku yaitu tentunya pacarku, Mike. Aku tahu dia pasti khawatir akan aku, namun aku tidak bisa berdiri dengan tegas untuk meninggalkan adikku yang lagi asyik berbicara mengenai korea. Akhirnya setelah beberapa menit selesai juga. Aku langsung bergegas ke kamar, mengambil HPku dan berusaha memberikan kabar dengan harapan ia masih bangun. Syukurlah ternyata dia masih bangun. Kita cukup berbincang beberapa balon chat lalu tertidur.
Aku dan Mike bisa dibilang telah menjalin hubungan hampir 1 tahun, kami bertemu saat pandemi dimulai. Sebenarnya lucu kalau dijadikan judul sinetron "Jodohku datang bersama pandemi". Kami bertemu secara online karena memiliki kesukaan yang sama yaitu bermain game. Kami mulai dekat dan pada akhirnya kami berpacaran. Bisa dibilang hubungan kita memiliki banyak batu dan paku, namun itu tidak menghentikan kami untuk menyerah. Namun tidak pada hari itu.
Tanggal tiga januari merupakan hari ulang tahun Mike, akupun tidak ingat, tapi sejujurnya aku sudah melihat dan mengira bahwa ulang tahunnya sepuluh januari. Pada hari sebelum itu, aku membuat masalah, "lagi-lagi aku". Aku tertidur dan lupa memberikan kabar yang seharusnya kuberikan sudah berkali-kali seperti ini, dan aku jujur saja kecewa pada diriku sendiri. Ia mengajak aku call malam itu, namun tidak tahu kenapa, aku jadi sangat kesal karena aku tidak tahu mau bagaimana membalikkan moodnya. Akupun langsung berkata tanpa basa basi dan pikir panjang kalau dia lebih baik mencari cewek lain yang bisa bahagiain dia saja. Sebenarnya, perkataan ini kuucapkan karena aku takut, aku takut dia sampai habis kesabarannya di satu titik dimana aku sering tertidur terus. Sepanjang call pun kita awkward, ia sengaja mematikkan callnya agar aku call lagi. Namun, betapa bodohnya aku tidak call dia balik, karena saat itu aku berpikir untuk memberikan dia "space" dan berpikir bahwa "dia pasti tidak peduli", sungguh pemikiran yang bodoh. Cekcok pun terjadi hingga di satu titik aku mengatakan bahwa dia harus mencari cewe lain. Dia pun berkata "oke, akan aku hapus (kontak) kamu jam 2.00". Saat itu sudah tanggal 3 Januari 2021 jam 1.41, perasaan lain pun muncul. Aku takut. Aku sangat takut kehilangan dia. Aku takut bila dia mencari orang lain. Aku pun langsung berusaha menelpon dia berkali-kali hingga dijawab. Akhirnya pun dijawab, aku terus berkata bahwa aku ingin dia stay, "aku ingin kamu stay" namun dia menolak bersikeras ingin menghapus aku, bersikeras juga tidak ingin berteman denganku ataupun kembali seperti semula. Hatiku sakit dan hancur, ini merupakan pertama kalinya. Pertama kalinya aku merasakan sakit seperti ini. Rasanya seperti ditusuk oleh pisau. Aku tidak bisa berpikir jernih lagi dan napasku pun menjadi sesak. Inikah rasanya patah hati? Aku takut dan aku menyesal telah mendorong dia, namun aku tau aku egois sekali, karena aku ingin dia kembali memberikanku kesempatan kedua. Aku berharap, berharap pada saat itu dalam hati "Tolong, andai saja waktu bisa diputar kembali". Namun what have been done, has been done.. ia tetap bersikeras tidak mau memberikanku kesempatan kedua.
Napasku menjadi makin sesak, aku tidak ingin kehilangan orang ini. Aku cinta mati. Aku tidak peduli kalau aku egois. Aku tidak boleh kehilangan dia, aku tidak ingin menyesal. Aku tetap memohon maaf, sampai ia memberikan aku kesempatan kedua dan akhirnya diberikan. Perasaanku campur aduk; lega karena aku tidak kehilangan orang ini, senang karena akhirnya kita bisa kembali, dan sedih.
Sedih? Kenapa? Saat ia memberikanku kesempatan kedua dia berkata bahwa "Kalau aku kembali ke kamu sekarang juga karena kasian". Aku benar-benar speechless, tidak pernah aku pernah merasakan sakit yang besar seperti ini. Saat ia kembali, aku sedih karena satu pertanyaan, apakah dia kembali hanya karena kasian? Apakah ia kembali hanya karena ingin menenangkan aku... Aku tidak tahu. Aku ingin cari tahu. Perasaannya yang sebenarnya... Apa kamu mencintaiku?
Sorenya, kami bermain game seperti biasa. Kamu yang seperti biasa ceria, serta aku yang selalu merasa pada akhirnya kekosonganku terisi. Namun aku salah kata, aku salah kata hingga dia marah. Aku takut.. takut kalau dia benci aku.. tapi aku juga tersakiti akan kalimatnya. Orang-orang selalu memandangku rendah, aku selalu tidak bisa apa-apa dimata orang, aku selalu kekurangan. Aku tidak pernah mengekspresikannya kepada orang-orang, namun hanya dia. Hanya dia yang aku beri tahu bahwa aku sejujurnya tersakiti. Sampai sekarang pun aku masih sedih. Namun, yang terpenting bagiku itu dia bahagia karena ini adalah hari ulang tahunnya. Setidaknya yang terpenting adalah kebahagiaan dia. Dia cerita sedikit mengenai hari ulang tahunnya yang juga merupakan hari ibunya membuat kesalahan. Sejujurnya bagiku.. itu bukan salahnya. Melainkan salah ibunya. Tetapi sejujurnya, susah sekali mengatakan itu, karena suasananya. Akupun tidak bisa berkata apa-apa. Tapi jujur, aku sekarang mulai takut saat berbicara...
Dia chat aku, namun aku terlalu sedih untuk membalas. Terlalu tersakiti. Aku ditengah-tengah dilema apakah aku harus memperjuangkan perasaanku yang sebenarnya juga tersakiti akan kalimatnya, apakah aku membiarkannya saja... Aku meminta maaf juga, namun mungkin dia sudah muak dengar aku meminta maaf dan menangis setiap saat. Tapi bagaimana lagi, susah untukku menahan nangis. Aku bingung, aku pusing. Aku tahu aku tidak jago dalam berbicara. Jika mamaku adalah seorang yang jago bertutur kata, aku kebalikannya. Terkadang maksudku tidaklah buruk sebenarnya, namun orang memiliki pengertian yang berbeda terhadap kata-kataku. Aku kira itu hanyalah prasangka mereka. Namun, ternyata memang aku.. aku yang salah. Setidaknya aku sadar itu sekarang. Aku harus berubah. Aku tekad. Aku tidak mau dibenci oleh orang ini tolong apapun... karena aku benar-benar kosong tanpa dia. Aku sadar hari ini, aku benar-benar sampah dan aku benci diriku yang sekarang. Aku ingin menjadi lebih baik lagi, bukan untuk dia tapi untuk dirikku, tapi dia sungguh adalah motivasiku.